Rabu, 23 Mei 2018

Puisi - Repatriasi

"Inilah Namaku"

(Repatriasi Puisi Adonis)

Kulawati pinggulmu
bentala terkayun-kayun seturut
Instalasi tubuhmu berkebah bekersik
seperti gemap alir rembah nil
Kita berambai-ambai
Kita tabik-bersitabik
Kau meregat dalam darahku
bena menjegal-jegal
dadamu
Kau dan Aku lepa
Kita mengasal:
Cinta selapi iras belati malam
mestikah aku memekik bila limbubu bersanggat?

Marilah kita mengasal:
sejaras gema memanjat kota
dan orang-orang adalah mirat pelatis
Ketika garam berlalu
kita bakal berjumpa, itukah kamu?
---cintaku semaja kelukur

*Terjemahan bebas dari puisi This in my Name - Karya Adonis (Ali Ahmad Said Asber)

Senin, 21 Mei 2018

Puisi - Puisi Digital (ORI)

Setelah berlama-lama berendam dalam dimensi puisi lokal di dunia digital, dari apa yang saya pahami ada jenis puisi digital. Mungkin bukan dalam pembaruan, tapi pemisahan (otonomi) dari jenis puisi fisik, menjadi puisi jiwa, yang ditangkap dalam gelombang angka-angka namun akhirnya sama, ditransformasi kembali jadi puisi.
Puisi digital lain bukan sekadar puisi anu dilahirkan lewat ruang digital atau jadi puisi tanpa tuan karena ruang bebas hak intelektual.
Tapi lebih ka puisi anu tercipta jeung berkembang di dunia digital.
Habitatna endemik di ekosistem sosial media.
Semacam puisi topotipikal kontemporer dalam pengertian khusus.

Anu pertama urang bingung ngaranna naon, tapi tinu pengenalan urang mah ieu teh puisi kardinal.
Urang menempatkan puisi kardinal karena dibuat dari urutan angka ideal, dengan penyebutan model numeral definitif, tersusun atas angka-angka, bukan kardinal dalam linguistik.
Dibentuk lewat angka anu tiap kalimat adalah puisi berbeda-beda dalam satu semesta yang sama tanpa diwakili judul yang terikat, judulnya memiliki makna sendiri pada keseluruhan keunikan puisi dibawahnya.
Tinu contoh:

"Senyat"
(1) Angin. Sakal tersekal wajah laut asing.  Padmi memintal rindu ditepian alaf
(2) Sungai-sungai ku cipta dalam ampai, meregang dalam regah
(3) Amsal mengalem lembah-lembah, belembang menganggi, aku lecut
(4) Doa. Jalanku menyusur ara menjelma tiada
(5) Senyat. Celah-celahku mengusik, menjadi ombak diperaduan merincit

Anu kadua, urang lebih bingung ngaranna naon, sebut saja puisi label.
Karena untuk menghidupkan puisi ini syaratna memasukkan 'label' tinu kumpulan akun untuk melengkapi potongan-potongan aku lirik di puisi bukan sebagai pelengkap tapi materia utamanya.
Akun yang di labeli, adalah akun palsu.
Tinu contoh:

"Ibadah Cerpelai"
Ceranggah. Bibirmu mengupas ceramai @lionestroll, ceruk pinggangmu mencupar duka telaga. @Marvingaye memisai tiap jarak kumismu. Bulu jerabai meminta-minta. Tiga @mogumogu terjerapi moksa @dalamdamai. Tirah raja-raja, lalap dilulup langsuir. Anak dalam daksa.

Ada neolog, puisi yang menggunakan disksi yang telah punah, tapi di revivasi jadi sesuatu yang fresh kearah neo-indonesia kemudian diterapkan pada model puisi modern.
Ada ciri lain yang mungkin tidak berlaku pada semua neolog, yaitu menggunakan tema atau topik mitos yang mirip dengan puisi mantra, namun yang membedakan modal bahasa neolog bukan bahasa modern seperti sekarang, pengungkapan nya disesuaikeun dengan rupa bahasa zaman kuno yang sibuk membahas hal-hal yang terikat pada zaman itu.

Contoh:

Dangir. Dangir.
Putra beraksa mengalun-alun
Terempa candit berilir
Huwa Huwa
Gadis menyanga
Nyala-nyala
Nusyu Petanggi
Lima Jemu Jemeki
Kasihku
Pusta-Pusta
Ngalau bersera

*Disclaimer:
Sebenernya masih banyak jenis puisi lain, tapi insignifikan, serta pengarangnya amat terbatas, serta tidak berbeda dari definisi puisi modern dan umum non-otonom, jadi tidak terlibat.
Yang biasanya di pos melalui suatu akun bebas, tanpa hak dan batas cipta, puisi tanpa tuan, yang modelna serupa atau mendekati, dengan ciri-ciri, ditulis sederhana, menggunakan diksi yang penuh emosi dan nilai prestis, karena diksinya sudah usang atau belel, dan dengan catutan nama pengarang sebagai bentuk formalitas semata.
Dengan like dan share yang amat besar.
Keindahan dan kenikmatan puisi bagi pembaca awam mah memang begitu. Terletak pada kelangkaan diksinya.
Tapi saat sudah mencapai ekstasi.
Menerima puisi melampaui masalah aku lirik dan aforisme fisik.

Post-Scriptum:
Saya sebenarnya tidak bisa menulis puisi, hanya merespon stilumuli yang dibagikan kesadaran alam pada diri, sehingga puisi-puisi lama saya memuakkan.
Memalukan dan penuh kelebayan.
Saya minta maaf karena tidak bisa menulis lagi, mungkin suatu saat saya akan menerbitkan antologi puisi bersama kawan saya, mungkin juga tidak.

Terimakasih.

Sabtu, 19 Mei 2018

Curhat Ceria #3 - Mishistorisitas

Saya pernah baca disalahsatu buku, dalam glosarium suatu buku, namun ada yang aneh, ini kasusnya:
Indonesia artinya:
Indo=campuran
Nesia=bangsa-bangsa
Apakah benar begitu?
Yang linguistic expert tolong dibantu. Atau yang paham sejarah bisa dong bantu.

Sepengetahuan dangkal saya, kalau tidak salah, termin "indonesia" dimulai dari antropolog inggris J.R. Logan tahun 1850 (tepatnya 1847 bertepatan dengan penerbitan jurnal nya sendiri) untuk menandakan gugusan pulau dalam rujukan tulisan, entah artikel, jurnal atau buku "indian archipelago" pada tahun 1820 namun termin "indonesia" tersebut bukan dalam bentuk politik, tapi zona kultur hingga ke wilayah sekitarnya seperti filipina, brunei, malaysia dan singapura.
Kemudian pada tahun 1860 awal mula peta antik East Indian Archipelago dibuat.
Sebatas pengetahuan saya, indonesia berakar dari hindu + nesos + ia, diberikan nama hindu karena menurut sejarah pernah menjadi sentra kerajaan hindu, atau indie (belanda) dari bahasa inggris kuno sekitar abad ke 5 hingga ke 12 masehi, saya lupa tepatnya, yaitu Ynde (awalnya derivasi dari bahasa Prancis kuno, yang diserap bahasa latin India, bila ditarik lebih jauh dari bahasa Yunani India) dalam artian ini merujuk pada 'india' atau suatu kepulauan di daerah asia, namun setelah adanya masa kolonialisme di india mungkin rujukan India tidak terbatas lagi pada negara Sindhu.
Kemudian akar nesos atau neson pada khersonesos atau pulau tanah kering dari bahasa Yunani, nesos dipisahkan kemudian diambil sebagai kata tautologis dari khersonesos, yang setara dengan kata insula atau pulau dari bahasa Latin. Dan suffix -ia kalau tidak salah adalah noun ending yang menunjukkan noun abstrak bergender feminim singular dalam bahasa Yunani, yang diserap jadi -ie dalam bahasa Prancis dan -y dalam bahasa inggris.

Terimakasih.
Bila ada yang dirasa kurang silakan sampaikan komentar.

Jumat, 18 Mei 2018

Curhat Ceria #2 - Argumen Kedua

Duh menyedihkan.
Aing mah.
Masih ada saja orang bebal di dunia ini. Setelah manusia hidup ratusan ribu tahun. Dengan bukti fenomena makroevolusi (bagi yang percaya)
Dan otak manusia mengalami prakondisi ensefalisasi dari yang dulunya ratusan centimeter kubik kurang lebih 300cc hingga sekarang 1350 atau 1450 centimeter kubik.
Dan sekarang menjadi sapiens dalam skala alometrik Snell bernilai 5.72 EQ ada juga yang mengatakan sebesar 7.44 EQ dan dalam PGLS 12.6 untuk manusia modern zaman now.
Intinya otak manusia sudah sangat teroptimasi.
Masih saja ada orang yang kurang berpengalaman mengatakan dengan amat yakin, bahwa ia menolak bukti arkeologi dan antropologi karena didasari atas tiga hal:
1) sejarah itu hanya penafsiran sejarawan saja yang bisa dikomodifikasi sesuai kepentingan
2) tidak sesuai dengan 'fakta' yang dirinya percaya karena bertentangan dengan salahtiga buku novel fiksi perjalanan Mang Kirema
3) bukti-bukti sejarawan adalah palsu belaka karena umur dan keutuhan suatu jasad tidak mungkin diketahui

Sangat disayangkan, manusia sudah diberikan begitu banyak kesempatan mencari dan menemukan kebenaran.
Dengan seketika, dalam hentikan jari penulis, *poof* percaya dan menyakini dengan segenap hati bahwa novel fiksi yang dia baca adalah pedoman kebenarannya.

Perlu saya sanggah lagi? Seperti tidak. Saya tidak suka mencari musuh, hanya saja tingkat kebebalannya sampai ke sel bahkan hipen isotop.
Mungkin untuk nomor satu, itu bisa benar juga bisa salah, karena sejarah dalam bukti teks (pembukuan) bisa saja dibuat oleh orang-orang dalam konsesus komunitas epistemik, seperti yang sudah-sudah, lebih jelasnya di Indonesia sendiri, penulis wiracarita atau babad juga para penulis purana dan sutra (bukan balon nikmat) menulis untuk melanggengkan kekuasaan atau memang tugas khusus untuk mengabadikan citra sang tokoh atau keadaan sebuah peristiwa.
Karena ada kesadaran akan ilmu untuk menjelaskan dan memaparkan kisah-kisah suci maupun nonsuci agar teraktualisasi, dalam warisan perkembangan budaya.
Bisa bernilai salah karena, tidak sedikit penulis sastra dan nonsastra kuna, bukan sastra modern yang dimensinya dulce utile, menulis untuk menjadi kapsul waktu karena menulis sudah menjadi tradisi berbagai kebudayaan, untuk mewariskan kesadaran dan rasa hormat akan leluhur, sikap kultus, dan tidak dapat dipungkiri bila banyak bukti purana dan sutra yang menunjukkan sebuah epik tentang suatu realitas masa lampau.
Terlepas dari siapa dan untuk tujuan apa menulisnya, setiap buku atau naskah kuna, menjadi penting dalam pembuktikan sejarah dimasa depan.

Mengenai masalah kedua, yang ada hubungannya dengan masalah pertama.
Yang sebenarnya subjektif dalam menafsirkan sejarah siapa? Situ? Atau sejarawan?
Argumen konyol dan penuh semangat bunuh diri bila menuding hanya dengan persepsi apriori, seharusnya ada sintesis kemudian, setelah mengetahui persepsi posteriori.
Bila sejarawan yang subjektif, memang di lapangan, sejarawan sudah dibekali dengan ilmu dan pengetahuan tentang masa lalu yang membentuk suatu kecenderungan, kemudian dirinya berusaha menerapkan ilmunya untuk pembuktian. Bukti arkeologi atau antropologi itu dapat bernilai salah (dalam artian palsu atau tidak lagi benar) apabila ada penelusuran baru yang radikal (mendalam) dengan bukti-bukti ilmiah yang baru, maka bukti sebelumnya dapat dikokohkan atau dinonaktifkan.
Seperti halnya teori saja, mungkin tidak relevan pada 10 atau 15 tahun lagi.
Sejarawan dengan tentu tidak sekadar menggunakan penerawangan (seperti penulis novel fiksi Mang Kirema) melainkan dengan berbagai cara. Melalui ante quem dan post quem dalam stratum, carbon dating, stratifikasi tanah, Harris Matrix, -ium dan -ium dating: molecular clock, argon dating, amino acid dating, seriation dan stratigrafi. Ada tiga cara sebenarnya, empat sih tepatnya: Melihat unsur di masa lalu (dan masa sekarang), membandingkan (setara, majemuk atau menurunkan), menginvestigasi langsung dan post investigasi, semuanya saling berhubungan untuk memberikan bukti ilmiah pada masyarakat, khususnya untuk memengaruhi bukti yang ada sebelumnya.
Sudah mulai terang?
Bila situ yang subjektif, tentu dapat dibuktikan, ingat: kepercayaan itu perlu bukti. Beda dengan iman. Dalam ekosistem bukti ilmiah semuanya perlu validasi, meskipun akurasinya berada dibawah 100% tapi... Berada jauh diatas 50% ada yang 60 sampai 80% dan semuanya sudah menjalani prosedur validasi tentunya.
Tapi novelnya? Apakah ada badan yang khusus mengkaji keabsahan realitas novel tersebut? Tidak kan, karena realitas fiksi ya fiksi itu sendiri, walaupun ada di realita, hanya sebuah ungkapan, dan poesis.
Jika didalam novel, Mang Kirema adalah keturunan Adhama dengan segala 'fakta-fakta mencengangkan' tentu itu sebatas realitas terisolasi saja.
Apakah bisa dibuktikan? Sila tanya diri sendiri. Jawaban ada di ujung formalitas.
Shhht, ada rahasianya: mana ada fakta dibikin trilogi, pasti tau kan apa itu trilogi dan sekuensi?

Untuk yang ketiga kita jawab singkat saja, tentu jawabannya akan relatif, tergantung pengetahuan dan keluasan pemahaman saja mengenai konsep 'bukti' yang dituding bernilai salah. Memang dalam dunia arkeologi, paleoarkeologi, dsb, ada lebih dari 5 atau lebih ya, kasus besar penipuan atau hoax, seperti kasus tengkorak raksasa di India dan Arab, atau kasus Cardiff Giant, ketiganya hanyalah editan foto belaka sebagai propaganda suatu oknum pengamal agama saja.
Kan sudah dibahas di atas mengenai umur dan keadaan suatu bukti ilmiah itu disesuaikan dengan model atau hipotetik suatu forms dimasa lampau (ketersesuaiannya) karena dimasa depan terlihat atau tidak terlihat perubahannya, pasti suatu objek mengalami perpindahan waktu, mempunyai umur, penuaan dan nekrolisis sel, serta pernah mengalami rasanya kehidupan, setidaknya bukan energi metafisik yang digadang 100% kan. bila bentuknya fosil atau naskah, saya rasa mudah untuk menyatakannya benar (valid dan relevan) bila sudah ditemukan bukti yang lain atau adanya ulasan maupun kritik terhadapnya, tentu yang mengulas juga harus setara.
Tidak bijak dong bila seorang yang bukan sejarawan dan tidak pernah membuktikan, mengatakan jika cerita fiksi itu lebih nyata, mungkin dalam critical realism, bisa kita ketahui ya.

Eh iya, bulan puasa gak baik ngomongin orang. Bagi yang tersinggung maaf ya, kalian harus bekerja lagi untuk membuktikan novel fiksi itu tidak fiktif.
Fighting Pals.

Rabu, 16 Mei 2018

Curhat Ceria #1 - Catatan Gantung

Mengenai kasus banner yang sedang heboh belakangan ini.
Saya jadi greget terpingkal-pingkal, ingin ikut berpendapat.
Sebenarnya ini kasus yang sederhana, hanya saja formalitas informasi di reproduksi berulang hingga mencipta mata rantai opini yang penuh dan kokoh.
Kita seharusnya melihat secara objektif. Berusaha melepaskan diri dari belenggu bias sosial.
Ada yang dimaksud fakta sosial, ada juga asumsi sosial.
Mungkin saya tak akan membahas nya secara lengkap, kita sajikan saja secukupnya.
Yang harus kita tegaskan bahwa: Pemerintah berupaya menetapkan pijakannya secara netral, terlepas dari sikapnya objektif atau tidak, karena sebenar benarnya posisi netral bukan berarti tidak memilih, melainkan memilih untuk sesuatu yang melampaui faktisitas pilihan-pilihan yang ditawarkan.
Juga itu menegaskan sesuatu yang subtil, bahwa sikap netral, tidak pernah sepenuhnya lepas dari respon emosi.
Pemerintah tengah berupaya sebaik dan secermat mungkin dalam bertindak, dalam mengurusi isu-isu kemasyarakatan.
Dengan dorongan cinta (agak) maternal, untuk melindungi rakyatnya sebagai jantung penubuhannya dalam kehidupan bernegara.

1. LGBT itu bukan penyakit masyarakat?
Sebelum membahas itu, mari kita rangkai pemahaman kita mengenai relasi dan identitas gender.
Bagi manusia, yang notabene secara de facto adalah mahluk hidup yang lebih kompleks, yang berada dipuncak scala naturae. Yang dapat dibedakan secara diametral dibanding fauna (khususnya) yang berada dibawahnya. Tidak menjadi masalah. Hanya saja bila melihat dari sisi empiristik yang sering dijadikan landasan berasumsi, mengenai kasus tingkah laku homoseksual dan transgender di dunia fauna, semuanya akan jadi kabur, keruh.
Memang ada 1500 spesies yang mengalami kondisi homoseksual.
Seperti pada kasus dua penguin yang menjaga telur bersama sesama jenisnya hingga menetas, atau kasus dua singa di afrika tepatnya, yang saling bermesraan yang berhasil tertangkap kamera.
Atau primata kelas rendah yang saling membelai perut masing-masing sebagai simbol orgiastik. Dalam dunia fauna memang sedikit ditemukan jejak-jejak masturbasi sesama jenis, tapi itu menjadi bukti yang kuat bagi eksisnya tingkah laku homoseksual. Untuk kasus transgender, didunia fauna juga terdapat contoh yang paling jelas:  Dalam koloni Ikan Badut, jika betina terbesar mati, para jantan melewati fase perubahan hemaprodistik dan menjadi betina. Para anak-anak yang menuju dewasa dengan segera menjadi pemberi benihnya. Jadi secara teknis, ayah Nemo adalah ibunya.
Sayangnya asumsi ini memiliki kelemahan berpijak, bagaimana mungkin isu relativitas gender dalam dunia hewan, yang bahkan tidak mengenali apa itu relasi dan identitas gender, diajukan sebagai solusi dalam menjawab permasalahan gender dewasa ini.
Hewan tidak mengenali dan memiliki sistem etika norma serta sistem agama. (Jika memilih untuk dipetakkan dalam suatu format agama)
Maka masalahnya menjadi rumit.
Secara empiris, semua mahluk hidup diberikan diformisme seksual yang memengaruhi kinerja dan potensi otak dalam hal prokreasi dan keberlangsungan kegiatan seksual.
Ada binerisasi antara laki dan puan.
Dalam hal ini pekerjaan hormon didalam otak fauna, yang umumnnya dapat dikenali dari ciri fisik, seperti pada merak jantan, pada ekornya yang indah menjulang dan berwarna kristal. Sedang pada betinanya, kecil, tumpul dan terlihat tidak mencerahkan.
Pada manusia secara khusus, binerisasi ini terlihat pada kerja hormon dalam tubuh dan pembagian lembaga dalam otak.
Perbedaan tersebut dapat dilihat dari hipotalamus, yang mengimplikasikan kegiatan dan kebiasaan seksual, dan sikap reproduksi. Menurut penelitian, juga berpengaruh pada memori, emosi dan stres. Perempuan menunjukan partisipasi lebih besar pada area seperti frontal dan limbik korteks. Sedang pada laki-laki, cenderung lebih besar pada amygdala dan lobus parietal.
Sebagai contoh, penelitian menunjukkan perempuan dengan depresi mayor disorder memiliki hypoaktivasi didalam sirkuit stres yang terhubung dengan rendahnya estradiol dan tingginya progesterone.
Dengan melihat data diatas, kasus LGBT sebagai bukti penyakit masyarakat menjadi sah.
Karena perbedaan kualitas serta struktur otak fauna berada dibawah standar manusia, memberi gambaran baru jika manusia yang dirinya kompleks, begitu juga dengan kehidupannya yang kompleks, karena di isi dengan seperangkat aturan-aturan tidak tertulis (yang seharusnya dipahami seksama) mengenai isu LGBT sebagai bentuk penyimpangan dari realitas diri.
Walaupun dalam agama lain (diluar islam) memandang LGBT secara netral, lebih terbuka, tetapi berada ditengah persimpangan, tidak membiarkan karena ada pengaruh etika dan norma yang berlaku sebagai bentuk pengawas dan pengatur kehendak sosial manusia, serta tidak menolak (atau menghakimi) dalam dimensi agama karena dalam kitab nya tidak ada perintah atau larangan untuk membenci, bahkan menghukum sikap LGBT.
Hanya islam yang secara khusus mengecam dan mengutuki isu-isu LGBT dengan jalan yang keras dan berbatu.
Walaupun dalam diri manusia, khususnya sebagian besar pria normal (dalam hal ini, sikap straight) terindikasi memiliki gen xp28 didalam dirinya, yang 7 sampai 8 kali lebih banyak ketimbang pada lelaki yang memiliki kecenderungan gay atau homoseksual.
Tapi bukti tersebut tidak akan menyederhanakan masalah-masalah LGBT, karena manusia dengan segala ketakutannya akan berpegang pada kekuatan yang lebih tinggi dari dirinya, mungkin saja Yang Maha Asing. Atau akses pada kekuatan yang lain.
Karena itulah dalam mengatur kesadaran dirinya, manusia membutuhkan panutan, pedoman, baik yang cair maupun yang padat. Menyublim dalam hatinya.
Pedoman itulah yang mencipta kebahagiaan.
Manusia boleh saja meniru tingkah fauna yang tidak mengenali sistem etika dan norma, juga tak tunduk pada keterikatannya dengan kehadiran sang Ilah.
Tapi jangan berharap apapun karena setelahnya kalian di ekslusi sebagai manusia, seutuhnya.

2. Gepeng: Gembel dan Pengemis (Sang Diri atau Sang Liyan)
Bagi yang beranggapan pemerintah telah melahirkan stigma terhadap marjinalisasi.
Kalian barang kali lupa, mengenai gejala subaltern (yang dipelopori gramsci) dengan contoh, yang dialami masyarakat amerika latin, yang harus tunduk dalam imperialisme kultural dalam bentuk 'kurungan' bahasa, masyarakat pribumi (dalam artian khusus) mengalami bentuk opresi dengan mengharuskan diri mempelajari, menguasai dan mencintai bahasa Spanyol sebagai bahasa fungsionalnya.
Mereka ditekan untuk menggunakan dan memberdayakan bahasa asing diluar dirinya, mereduksi dirinya menjadi 'aku' yang kemudian dipangkas lagi menjadi 'kami' karena sudah memudarkan keakuan sang aku didalam keterasingannya menghadapi subjek lain, dirinya tidak disetarakan lagi.
Dalam pandangan marxis, mungkin kaum gepeng adalah lumpenproletariat, seperti pada anekdot nya "kami hidup hanya untuk bekerja (dan untuk memenuhi) kebutuhan kapital" sosok-sosok yang terombang ambing dalam kehidupan bernegara, bersosial, beragama.
Mereka disingkirkan dari kendaraan kemapanan.
Mereka bekerja sekeras apapun hanya untuk tetap kembali bekerja, hidupnya adalah bekerja itu sendiri.
Mereka kehilangan identitas, kebebasan dan nilai produksi, serta kemungkinan penggunaan akses sosial.
Bekerja tanpa aksi-aksi hati nurani.
Yang menggerakan mereka bukanlah komoditas nilai-lebih yang akan mereka produksi sendiri, yang dikonversi dalam bentuk anatema gaji. Melainkan, ketidakadaan jalan keluar atau penghindaran selain kembali bekerja untuk terus menyambung hidup.
Gembel dan pengemis adalah salahsatunya.
Mereka kehilangan hak bebas, karena keadaan ekonomi memberi garis yang tegas antara mereka dengan pemerintah.
Kemiskinan adalah penjaranya. Mereka dimasukkan kedalam kategori 'penyakit' karena kemiskinan dapat meluas dan memicu timbulnya otoritas kriminalitas.
Tekanan ketidakmapanan, akan mencipta lapangan kerja baru: pengangguran dan pelaku kejahatan.
Dengan landasan moral tentunya.
Moral paradoks: Berbuat lalim karena kebutuhan, dan kebutuhan menghasilkan kebuntuan, dan kebuntuan menghasilkan keterpaksaan.
Kemiskinan memang bukan salah siapa-siapa. Melainkan 'adegan' yang harus dipentaskan. Bukan sebagai tipuan sandiwara, melainkan pemeranan satir yang setiap hembusan nafas dan detakan jantung dipenuhi rasa ketersiksaan dan kehancuran.
Tuhan sudah menggaris, nasib yang jelas diantara mahlukNya.
Ada yang dilahirkan mapan, ada yang dilahirkan sangat tidak mapan.
Keduanya sama-sama dicinta.
Hanya citra nya saja yang dianggap berbeda.
Kemiskinan bukanlah alasan seseorang dalam hal ini sebuah keyakinan komunal, bahwa dengan mengemis dan menjulurkan tangan adalah solusinya.
Untuk berbuat semena-mena terhadap dirinya sendiri.
Menjadi kaya atau miskin bukanlah pilihan.
Kedua nya sama-sama menjadi ancaman.
Pemerintah berusaha memuliakan keduanya, hanya saja yang sengaja di ekspos adalah sang liyan dalam diri gepeng. Yaitu kemiskinan dan penderitaan.
Keduanya menjadi alasan (kuat) satu-satunya untuk membela opini.
Muncul anggapan bahwa dengan menjadi miskin dan terkungkung, gepeng hanya dapat menyempurnakan dirinya menjadi menjadi seorang kriminal yang sukses.
Sayangnya pemerintah sudah berjalan sedikit lebih jauh, karena menempatkan kasus ini sebagai sebuah penyimpangan dan masalah rumahan yang amat pelik. Pemerintah sengaja mendorong masyarakat nya untuk kembali merangkul kaum lumpenproletariat. Kaum miskin.
Dengan jalan yang paling aksesibel untuk dilaksanakan walaupun gelap dan terjal.
Objektifikasi gepeng sebagai penyakit masyarakat tidak sepenuhnya salah, karena dengan cara itu pemerintah telah mengurangi satu hijab pembatas.
Menjernihkan posisi kaum gepeng ditengah masyarakat.
Imbauan tersebut bukanlah tanpa dasar, pemerintah dalam sisi pertama merangkul kamum gepeng dengan memberinya akses untuk diajari dan dituntun masyarakat, agar dapat kembali menaikkan taraf hidupnya.
Pada sisi lainnya, pemerintah ingin menghapus kemiskinan yang mendarah daging dengan jauh-jauh hari menyetarakan kaum gepeng sebagai bagian masyarakat yang perlu pentingnya kesadaran hukum, dan kejelasan perlindungan sebagai warga negara, sehingga tidak terjerumus pada pelaku kriminal.
Karena semua imbauan tersebut bukan tanpa usaha, pemerintah telah berusaha mengurangi angka kemiskinan dengan berbagai cara, hanya saja tidak semua cara menampakkan hasilnya dimata publik.
Ada cinta rahasia dibaliknya.
Penempatan posisi gepeng tersebut, secara epistemik telah menggeser keadaan sang liyan dalam diri kaum gepeng untuk memulai kembali menjadi sang diri yang utuh. Imbauan yang diberlakukan, bukanlah sebuah taktis banal, semata untuk mengingatkan kita bahwa dengan memberi uang kepada pengemis tak akan mengurangi atau menghentikan kemiskinan, malah menambah panjang mata rantai yang harus dipotong.
Dalam beragamapun, bederma adalah kebaijkan, namun harus tetap sasaran.
Memberi uang pada pengemis hanya melahirkan semangat mengemis baru yang termutakhir. Menjauhkan kaum gepeng pada realitas.
Sehingga membuat mereka semakin takut untuk keluar dari zona nyamannya.
Bukankah mengemis juga sebuah perbuatan tercela?
Mungkin yang harus kita tekankan adalah bahwa banyak diluar sana orang dengan penuh keterbatasan dan kelemahan, mampu melampaui keterbatasannya dengan jalan yang lebih mesra dan mulia.
Bekerja adalah sebagian dari iman.

3. Untuk yang ketiga, kita bicara singkat saja.
Kasus WTS atau Peramu Lendir juga telah di komodifikasi dalam opini yang menyudutkan pemerintah.
Melanjutkan pada poin kedua, kemiskinan melahirkan tuntutan, dan tuntutan harus ditunaikan. Caranya bermacam.
Yang paling nahas adalah menjadi WTS. Bukan karena statusnya yang telah di stigmakan pemberi opini sebagai pengurangan status aktual, juga pengurangan apresiasi terharap diri, namun karena beratnya peran sebagai WTS. Dengan beragam liku-liku dan jalan licin, yang suatu saat menjadi sumur yang dalam, gelap dan mungkin satu-satunya  tempat tanpa kesempatan kembali..
Bukan berarti menjadi mapan juga lepas dari tuntutan. Hanya sedikit yang telah menjalani moksha dari kehidupan penuh gelimang. Semakin gemerlap suatu panggung, semakin besar tuntutannya. Betapa beruntungnya kaum miskin, tidak tersiksa berkali-kali.
Didunia dikelabui harta, diakhirat (bagi yang percaya) juga mendapat siksa.
Belum lagi semakin besar penghasilan semakin besar usaha mengeluarkannya.
Dan kembali pada usaha untuk mendapatkan nya lagi, dengan dahaga akan nilai yang terus bertambah setiap digunakan.
Belum tuntutan untuk terus memenuhi keserakahan diri, sumber dari segala masalah.
Sayangnya pemberi opini mungkin saja lupa, jika WTS juga seorang lumpenproletariat.
Satu-satunya cara untuk memenuhi tuntutan hidupnya hanya dengan bekerja. Ia telah satu langkah didepan gepeng. Namun dua langkah dibelakangnya pada saat yang sama.
WTS ini telah mengalihkan potensi evolusinya ke arah yang lebih termodernisasi, menjadi seorang wanita yang amat bebas.
Namun pilihan semacam ini mengandung lebih banyak racun dalam konsekuensinya.
Kepemilikannya telah diunggah pada situs germo, kebebasannya dikastrasi.
Yang lebih buruk, kepemilikan atas tubuhnya telah digadai menjadi lembaran saldo padat yang akan cair setiap hembusan nafasnya mengisyaratkan penderitaan yang melampaui semua lumpenproletariat.
Memang imbauan pemerintah yang satu ini juga bernilai salah dan benar sekaligus.
Benar karena dengan merangkul kaum WTS akan dapat mengembalikan kepemilkan atas tubuhnya.
Juga mengurangi aksi lain yang dapat terjadi: overpopulasi, perceraian dan janda bertambah, anak-anak muda mulai timbul kegairahan untuk mencicipi, munculnya komune-komune baru di tempat monumental yang secara otomatis mereduksi nilai sejarahnya, penyakit seksual yang liar, serta bertambahnya tempat produksi penunjang wisata lendir, seperti kapitalisme karaoke dan meledaknya botol-botol minuman keras dan pencemaran kondom, serta meningkatnya jaringan sabu dan penjualan senjata terlarang (mungkin yang terakhir tidak terjadi disini).
Yang menjadi antinomi dalam hal ini adalah usaha pemerintah untuk menyelesaikan masalah WTS yang paling pelik ini.
Seperti buah simalakama, pilihan apapun akan menjatuhkan pemerintah pada petaka.
Membubarkan komune WTS akan menimbulkan pengangguran, serta bertambahkan aksi mengemis yang baru.
Membiarkannya akan menambah luas jaringan komune ini, namun devisa bertambah. Sayangnya saya rasa indonesia tak ingin menjadi negara layaknya las vegas.
Tapi dalam hal ini, imbauan pemerintah sudah tepat, dalam hal ini memperjelas posisi WTS sebagai masalah yang amat harus diselesaikan bersama.
Karena dengan mencabut paksa WTS dari habitus in situ nya, hanya akan memberikan penderitaan yang berkelanjutan.
Begitupun dengan penyelesaian lain, saya kira pemerintah tak buta atau tuli. Hanya wakilnya saja.
Kita tunggu bagaimana isu ini bergulir.

Wahai netijen.
Bijak-bijak lah dalam menyetujui dan membagikan informasi.
Pilih pilah dan pulih kan isi informasi selagi masih sempat.

Cinta

What is Love?

Apa itu cinta? Mengapa begitu penting memengaruhi hidup manusia.
Bagi sebagian orang, cinta merupakan  kebahagiaan tapi bagaimana dengan orang yang terluka dan mendendam karena cinta?
Apa cinta itu sebuah anomali eksistensi, yang mencipta rasa benci dan sayang dalam waktu yang sama?
Jawabannya ada diujung formalitas.
Cinta memang amat penuh misteri, sebuah forma enigmatik, segala manusia pernah mengenal cinta, tapi tak semua orang mengerti cinta.
Sepertinya semua bisa terjadi karena cinta, semua orang ingin menguasai cinta karena cinta melampaui segalanya (seperti kata Vergil, amor vincit omnia), karena itu pro tanto bagi semua aksi dan akting yang disiasati.
Manusia mengalami cinta dalam segala cara, mungkin banyak yang merasa tak dicintai karena merasa rupa atau bentuk cinta yang tak sesuai dengan keinginan personal, padahal cinta itu mampu jadi impersonal, suprapersonal, interpersonal dan transpersonal, cinta selalu amat dekat  hingga sering tak disadari. Banyak yang tak mampu mengakuisisi cinta hingga didakwa fakir cinta, padahal tidak semua tergantung fatwa, ada banyak sebab manusia memalingkan cinta. Semua memiliki cinta, terkadang karena berbeda melulu dianggap tak memenuhi qua status, sehingga sering cintalah yang disalahkan.
Padahal bagi sebagian orang yang lain cinta adalah Raison d'etre, atau alasan eksistensi tertinggi yang diberikan Tuhan sebagai bekal berkehidupan, agar menjadi pengobatan bagi kegelisahan hidup.

Cinta beragam bentuknya, ada Eros, Agape, Philia, Storge, Ahev, Amor, Caritas, Ludus, Pragma, Philautia, Xenia, Ren, Birr, Mania, dan sebagainya.
Macam macam model tersebut tak dijual di etalase niaga, masing-masing mengendap di tiap komposisi hati yang performanya dapat berbeda sesuai spesifikasi aktualnya. Atau lebih jauh, setiap modelnya menjadi radikalisasi cerminan sikap sikap primitif yang dibawa sejak manusia pertama, yang dihadirkan gejala estetika genetis sebagai wajah mental yang mewarnai kisah cinta masing-masing manusia.
Tapi sebenarnya hanya ada dua jenis cinta: Partikular dan Universal.
Cinta partikular (pema) adalah cinta yang serbaterbatas, cinta pada lawan jenis dan sesama manusia, yang dalam prakteknya melahirkan kama (nafsu) sehingga manusia terjerumus dalam embel-embel dosa dan sengsara, cinta jenis ini adalah cinta yang memerlukan pemuasan, pemilikan dan konsolidasi.
Sedangkan Metta atau maitri sebagai cinta Universal, yang mewakili cinta kasih Tuhan, embodisasi kasih sayang ilahiah yang menjadikan manusia sebagai wakil Nya di bumi, cinta kepada sesama mahluk, lingkungan, dan diri sendiri. Cinta yang secara kasta lebih tinggi dari pema, karena cinta yang tidak terbatas dalam kaidah-kaidah pemenuhan kepuasan.
Cinta yang sudah mutakhir dan tidak terbebani beratnya eksistensi, cinta ini tak memerlukan pengakuan serta mampu mencapai jauhnya Tuhan.

Begitu juga cinta yang dirupakan dalam pandangan empirisme,
Pandangan Konvesional dalam biologi ada tiga unsur dalam bercinta: libido, kegemalan, dan preferensi pasangan. Unsur neurokimia otak yang primer yang mengatur ketiga dorongan tersebut adalah: testoteron, esterogen, dopamin, oksitosin, dan vasopresin.
Jalur dopamin sentral mengakomodasi tingkah laku preferensi pasangan, sedangkan vasopresin di ventral palladium, pengelolaan oksitosin di nukleus akumbens, dan nukleus hipotalamik paraventrikular yang mengatur tingkah laku kegemalan dan preferensi pasangan.
Dorongan seks termodulasi melalui aktivitas pada ventral tegmental area dan nukleus akumbens.
Hubungan yang tercipta dari keterikatan peran sistem limbik dengan kegiatan kegemalan, menciptakan resonasi limbik.
Resonasi limbik merupakan implikasi dari kapasitas empati manusia dan pemahaman koneksi nonverbal yang dibagikan bersama pada sesama mamalia.
Saat bercinta otak merespon dengan mengeluarkan oksitosin atau hormon kebahagiaan yang akan melekatkan hubungan pasca kopulasi antar dua mamalia yang mengalami simfonisasi dua pertukaran mutual dalam gejala adaptasi internal dimana dua mamalia menjadi selaras dengan situasi batiniah keduanya.
Selain sebagai stimulus orgiastis, hormon ini juga memunculkan gejala hubungan simbiosis antara ibu dan anak, serta hadiah bagi suatu pencapaian yang berhubungan dengan dopamin.
Dopamin juga berperan penting dalam bercinta, karena pengeluaran dopamin akan mengatur hasrat dan motivasi yang melampaui kenikmatan. Dalam fungsi minimalnya, dopamin akan memicu gratifikasi seksual serta adrenalin.
Akson yang tercipta dari dopamin juga akan mereduksi aktivitas limposit, yang mengambil peran dalam imunitas, dalam artian ini, memaksimalkan kesehatan.
Testoreron memang dikenal sebagai hormonnya maskulin, karena 7 hingga 8 kali berjumlah lebih besar pada laki laki dibanding perempuan, dalam hubungan cinta, hormon ini memengaruhi manusia prenatal hingga posnatal, sebagai maskulinisasi anatomi, terutama sebagai tanda maturasi: perkembangan phalik, bulu pubik, bulu ketek, eskalasi suara, jakun, pengerasan otot dan pertumbuhan rambut, aroma badan, pematangan facial, serta ekspansi spermatogenik.
Dalam pandangan ini, manusia yang tengah mengalami cinta mengalami peningkatan kortisol dan mengalami semacam euphoria dari endorfin.
Secara biokemistri, hubungan antarunit hormon dengan jalur atau ruang perjalanan hormonal yang melintas diotak dan mengalir didalam tubuh, akan menuntun manusia dalam mencapai sinyalnya menemukan kriteria arketipal terbaik yang paling sempurna walaupun dengan adanya rasio manusia lebih bebas menentukan siapa yang akan dijadikan teman hidupnya diluar pemenuhan kriteria secara eksternal dalam hal ini kecocokan mutualistik secara instingtif, adanya sinyal belahan jiwa tersebut juga berhubungan dengan Hukum Coulomb, sederhananya menyatakan bahwa materia elektrik yang memiliki muatan positif dan negatif akan saling tarik menarik sebagai sebuah interaksi elektrik dalam suatu jarak tertentu, sebaliknya, bila bermuatan sama akan menciptakan dorongan penolakan.

Sedangkan menurut Marx, secara implisit, cinta merupakan sebuah ideologi, yang dalam pengertian Marx, adalah kesadaran palsu, realitas bagi seseorang akan ditentukan oleh posisi sosial ekonominya. Lebih dekat lagi, cinta hanyalah sebuah hubungan sosial ekonomi yang dijelmakan sebagai kapital semata, hubungan untung-rugi. Dimana cinta menghubungkan komoditas-komoditas diri, yang ada dalam preferensi bilamana ada ketersesuaiannya, maka akan diberlakukan sistem kontrak kerja, sesuai dengan aturan-aturan personal yang mengikat dan setiap pelanggaran akan mendapatkan sanksi, baik berupa teguran hingga pemutusan hubungan kerja.
Ada kuot kanon: Die Religion ... ist das Opium des Volkes (agama... Adalah 'candu' masyarakat) yang muncul sebagai anekdot baru "cinta adalah opium masyarakat" karena dengan adanya cinta, masyarakat tenggelam dalam kebahagiaan semu, layaknya candu yang hanya mengalihkan penderitaan sesaat, tanpa mampu memberikan penyelesaian.
Saya menolak tudingan jika saya seorang eksistensialis, tapi saya setuju dengan Sartre, bahwa cinta adalah penindasan. Cinta adalah bukti kegagalan manusia mempertahankan diri sebagai subjek. Karena tenggelam dalam objektifikasi pasangan, dan larut dalam dunia oranglain. Bahkan, seiring waktu takut merasa kehilangan dan muncul kebuntuan eksistensi.
Sehingga keutuhan Diri, telah terberai kedalam komponen-komponen liyan yang rapuh. Manusia telah kehilangan kepemilikan dirinya dalam diri, sehingga melalui cinta manusia jadi terasing (teralienisasi).
Namun berbeda bagi Fromm, cinta merupakan sebuah resolusi, pelepasan diri dari belenggu penderitaan eksistensi dan kesengsaraan dengan cara meleburkan diri kedalam kesatuan yang lebih tinggi, cinta adalah panggung untuk memberi, karena memberi bagi Fromm adalah bentuk potensi eksponensial tertinggi manusia. Dengan memberi, manusia membebaskan dirinya dari keterpisahan, namun dalam pengertian terbatas, memberi segala yang dimiliki dibedakan dari mengorbankan, karena apapun yang hadir didalam diri, diserahkan sepenuhnya bukan hanya konstruksi seksual saja. Dengan cara seperti itu manusia telah mencapai suatu pilihan yang mantap dalam melampaui segala kesulitan mencinta, diharapkan kebahagiaan sejati akan datang melalui sikap memberi yang tulus.
Karena memberi memampukan manusia dalam menerima kebahagiaan.
Tapi menyambung pendapat Fromm, keadaan cinta seperti itu melahirkan koreksi, yang mengingatkan saya pada anekdot di dunia teolog yang amat lucu, "ancilla amoris" atau pelayan cinta. Membiarkan diri menyembahkan yang liyan, sebagai sesuatu yang Kudus, sebagai pegangan yang melahirkan ketergantungan yang malah lebih buruk ketimbang candu itu sendiri. Karena menghilangkan integritas, yang dalam keutuhannya sebagai harmoni simbiosis.

Pada akhirnya cinta bukan urusan pemilikan perseorangan melainkan sebuah aktus humanus yang sejalan dengan aksi mental yang tak lepas dari Prehensi, yang telah melampaui rupa kepemilikan dan rumus pertukaran, dalam bentuk yang cair, yang independen, cinta yang jatuh pada cinta, dan menyempurnakan nya melalui cinta aku yang bersemayam didalam dirimu, diri dunia, diri semesta, dan diri Tuhan, namun, manusia masih harus terus berlatih menjalani cinta dalam  kepercayaan rasional dan irasional.

Jadi, apa itu cinta?