Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan

Senin, 21 Mei 2018

Puisi - Puisi Digital (ORI)

Setelah berlama-lama berendam dalam dimensi puisi lokal di dunia digital, dari apa yang saya pahami ada jenis puisi digital. Mungkin bukan dalam pembaruan, tapi pemisahan (otonomi) dari jenis puisi fisik, menjadi puisi jiwa, yang ditangkap dalam gelombang angka-angka namun akhirnya sama, ditransformasi kembali jadi puisi.
Puisi digital lain bukan sekadar puisi anu dilahirkan lewat ruang digital atau jadi puisi tanpa tuan karena ruang bebas hak intelektual.
Tapi lebih ka puisi anu tercipta jeung berkembang di dunia digital.
Habitatna endemik di ekosistem sosial media.
Semacam puisi topotipikal kontemporer dalam pengertian khusus.

Anu pertama urang bingung ngaranna naon, tapi tinu pengenalan urang mah ieu teh puisi kardinal.
Urang menempatkan puisi kardinal karena dibuat dari urutan angka ideal, dengan penyebutan model numeral definitif, tersusun atas angka-angka, bukan kardinal dalam linguistik.
Dibentuk lewat angka anu tiap kalimat adalah puisi berbeda-beda dalam satu semesta yang sama tanpa diwakili judul yang terikat, judulnya memiliki makna sendiri pada keseluruhan keunikan puisi dibawahnya.
Tinu contoh:

"Senyat"
(1) Angin. Sakal tersekal wajah laut asing.  Padmi memintal rindu ditepian alaf
(2) Sungai-sungai ku cipta dalam ampai, meregang dalam regah
(3) Amsal mengalem lembah-lembah, belembang menganggi, aku lecut
(4) Doa. Jalanku menyusur ara menjelma tiada
(5) Senyat. Celah-celahku mengusik, menjadi ombak diperaduan merincit

Anu kadua, urang lebih bingung ngaranna naon, sebut saja puisi label.
Karena untuk menghidupkan puisi ini syaratna memasukkan 'label' tinu kumpulan akun untuk melengkapi potongan-potongan aku lirik di puisi bukan sebagai pelengkap tapi materia utamanya.
Akun yang di labeli, adalah akun palsu.
Tinu contoh:

"Ibadah Cerpelai"
Ceranggah. Bibirmu mengupas ceramai @lionestroll, ceruk pinggangmu mencupar duka telaga. @Marvingaye memisai tiap jarak kumismu. Bulu jerabai meminta-minta. Tiga @mogumogu terjerapi moksa @dalamdamai. Tirah raja-raja, lalap dilulup langsuir. Anak dalam daksa.

Ada neolog, puisi yang menggunakan disksi yang telah punah, tapi di revivasi jadi sesuatu yang fresh kearah neo-indonesia kemudian diterapkan pada model puisi modern.
Ada ciri lain yang mungkin tidak berlaku pada semua neolog, yaitu menggunakan tema atau topik mitos yang mirip dengan puisi mantra, namun yang membedakan modal bahasa neolog bukan bahasa modern seperti sekarang, pengungkapan nya disesuaikeun dengan rupa bahasa zaman kuno yang sibuk membahas hal-hal yang terikat pada zaman itu.

Contoh:

Dangir. Dangir.
Putra beraksa mengalun-alun
Terempa candit berilir
Huwa Huwa
Gadis menyanga
Nyala-nyala
Nusyu Petanggi
Lima Jemu Jemeki
Kasihku
Pusta-Pusta
Ngalau bersera

*Disclaimer:
Sebenernya masih banyak jenis puisi lain, tapi insignifikan, serta pengarangnya amat terbatas, serta tidak berbeda dari definisi puisi modern dan umum non-otonom, jadi tidak terlibat.
Yang biasanya di pos melalui suatu akun bebas, tanpa hak dan batas cipta, puisi tanpa tuan, yang modelna serupa atau mendekati, dengan ciri-ciri, ditulis sederhana, menggunakan diksi yang penuh emosi dan nilai prestis, karena diksinya sudah usang atau belel, dan dengan catutan nama pengarang sebagai bentuk formalitas semata.
Dengan like dan share yang amat besar.
Keindahan dan kenikmatan puisi bagi pembaca awam mah memang begitu. Terletak pada kelangkaan diksinya.
Tapi saat sudah mencapai ekstasi.
Menerima puisi melampaui masalah aku lirik dan aforisme fisik.

Post-Scriptum:
Saya sebenarnya tidak bisa menulis puisi, hanya merespon stilumuli yang dibagikan kesadaran alam pada diri, sehingga puisi-puisi lama saya memuakkan.
Memalukan dan penuh kelebayan.
Saya minta maaf karena tidak bisa menulis lagi, mungkin suatu saat saya akan menerbitkan antologi puisi bersama kawan saya, mungkin juga tidak.

Terimakasih.