Tampilkan postingan dengan label Puasa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puasa. Tampilkan semua postingan

Jumat, 18 Mei 2018

Curhat Ceria #2 - Argumen Kedua

Duh menyedihkan.
Aing mah.
Masih ada saja orang bebal di dunia ini. Setelah manusia hidup ratusan ribu tahun. Dengan bukti fenomena makroevolusi (bagi yang percaya)
Dan otak manusia mengalami prakondisi ensefalisasi dari yang dulunya ratusan centimeter kubik kurang lebih 300cc hingga sekarang 1350 atau 1450 centimeter kubik.
Dan sekarang menjadi sapiens dalam skala alometrik Snell bernilai 5.72 EQ ada juga yang mengatakan sebesar 7.44 EQ dan dalam PGLS 12.6 untuk manusia modern zaman now.
Intinya otak manusia sudah sangat teroptimasi.
Masih saja ada orang yang kurang berpengalaman mengatakan dengan amat yakin, bahwa ia menolak bukti arkeologi dan antropologi karena didasari atas tiga hal:
1) sejarah itu hanya penafsiran sejarawan saja yang bisa dikomodifikasi sesuai kepentingan
2) tidak sesuai dengan 'fakta' yang dirinya percaya karena bertentangan dengan salahtiga buku novel fiksi perjalanan Mang Kirema
3) bukti-bukti sejarawan adalah palsu belaka karena umur dan keutuhan suatu jasad tidak mungkin diketahui

Sangat disayangkan, manusia sudah diberikan begitu banyak kesempatan mencari dan menemukan kebenaran.
Dengan seketika, dalam hentikan jari penulis, *poof* percaya dan menyakini dengan segenap hati bahwa novel fiksi yang dia baca adalah pedoman kebenarannya.

Perlu saya sanggah lagi? Seperti tidak. Saya tidak suka mencari musuh, hanya saja tingkat kebebalannya sampai ke sel bahkan hipen isotop.
Mungkin untuk nomor satu, itu bisa benar juga bisa salah, karena sejarah dalam bukti teks (pembukuan) bisa saja dibuat oleh orang-orang dalam konsesus komunitas epistemik, seperti yang sudah-sudah, lebih jelasnya di Indonesia sendiri, penulis wiracarita atau babad juga para penulis purana dan sutra (bukan balon nikmat) menulis untuk melanggengkan kekuasaan atau memang tugas khusus untuk mengabadikan citra sang tokoh atau keadaan sebuah peristiwa.
Karena ada kesadaran akan ilmu untuk menjelaskan dan memaparkan kisah-kisah suci maupun nonsuci agar teraktualisasi, dalam warisan perkembangan budaya.
Bisa bernilai salah karena, tidak sedikit penulis sastra dan nonsastra kuna, bukan sastra modern yang dimensinya dulce utile, menulis untuk menjadi kapsul waktu karena menulis sudah menjadi tradisi berbagai kebudayaan, untuk mewariskan kesadaran dan rasa hormat akan leluhur, sikap kultus, dan tidak dapat dipungkiri bila banyak bukti purana dan sutra yang menunjukkan sebuah epik tentang suatu realitas masa lampau.
Terlepas dari siapa dan untuk tujuan apa menulisnya, setiap buku atau naskah kuna, menjadi penting dalam pembuktikan sejarah dimasa depan.

Mengenai masalah kedua, yang ada hubungannya dengan masalah pertama.
Yang sebenarnya subjektif dalam menafsirkan sejarah siapa? Situ? Atau sejarawan?
Argumen konyol dan penuh semangat bunuh diri bila menuding hanya dengan persepsi apriori, seharusnya ada sintesis kemudian, setelah mengetahui persepsi posteriori.
Bila sejarawan yang subjektif, memang di lapangan, sejarawan sudah dibekali dengan ilmu dan pengetahuan tentang masa lalu yang membentuk suatu kecenderungan, kemudian dirinya berusaha menerapkan ilmunya untuk pembuktian. Bukti arkeologi atau antropologi itu dapat bernilai salah (dalam artian palsu atau tidak lagi benar) apabila ada penelusuran baru yang radikal (mendalam) dengan bukti-bukti ilmiah yang baru, maka bukti sebelumnya dapat dikokohkan atau dinonaktifkan.
Seperti halnya teori saja, mungkin tidak relevan pada 10 atau 15 tahun lagi.
Sejarawan dengan tentu tidak sekadar menggunakan penerawangan (seperti penulis novel fiksi Mang Kirema) melainkan dengan berbagai cara. Melalui ante quem dan post quem dalam stratum, carbon dating, stratifikasi tanah, Harris Matrix, -ium dan -ium dating: molecular clock, argon dating, amino acid dating, seriation dan stratigrafi. Ada tiga cara sebenarnya, empat sih tepatnya: Melihat unsur di masa lalu (dan masa sekarang), membandingkan (setara, majemuk atau menurunkan), menginvestigasi langsung dan post investigasi, semuanya saling berhubungan untuk memberikan bukti ilmiah pada masyarakat, khususnya untuk memengaruhi bukti yang ada sebelumnya.
Sudah mulai terang?
Bila situ yang subjektif, tentu dapat dibuktikan, ingat: kepercayaan itu perlu bukti. Beda dengan iman. Dalam ekosistem bukti ilmiah semuanya perlu validasi, meskipun akurasinya berada dibawah 100% tapi... Berada jauh diatas 50% ada yang 60 sampai 80% dan semuanya sudah menjalani prosedur validasi tentunya.
Tapi novelnya? Apakah ada badan yang khusus mengkaji keabsahan realitas novel tersebut? Tidak kan, karena realitas fiksi ya fiksi itu sendiri, walaupun ada di realita, hanya sebuah ungkapan, dan poesis.
Jika didalam novel, Mang Kirema adalah keturunan Adhama dengan segala 'fakta-fakta mencengangkan' tentu itu sebatas realitas terisolasi saja.
Apakah bisa dibuktikan? Sila tanya diri sendiri. Jawaban ada di ujung formalitas.
Shhht, ada rahasianya: mana ada fakta dibikin trilogi, pasti tau kan apa itu trilogi dan sekuensi?

Untuk yang ketiga kita jawab singkat saja, tentu jawabannya akan relatif, tergantung pengetahuan dan keluasan pemahaman saja mengenai konsep 'bukti' yang dituding bernilai salah. Memang dalam dunia arkeologi, paleoarkeologi, dsb, ada lebih dari 5 atau lebih ya, kasus besar penipuan atau hoax, seperti kasus tengkorak raksasa di India dan Arab, atau kasus Cardiff Giant, ketiganya hanyalah editan foto belaka sebagai propaganda suatu oknum pengamal agama saja.
Kan sudah dibahas di atas mengenai umur dan keadaan suatu bukti ilmiah itu disesuaikan dengan model atau hipotetik suatu forms dimasa lampau (ketersesuaiannya) karena dimasa depan terlihat atau tidak terlihat perubahannya, pasti suatu objek mengalami perpindahan waktu, mempunyai umur, penuaan dan nekrolisis sel, serta pernah mengalami rasanya kehidupan, setidaknya bukan energi metafisik yang digadang 100% kan. bila bentuknya fosil atau naskah, saya rasa mudah untuk menyatakannya benar (valid dan relevan) bila sudah ditemukan bukti yang lain atau adanya ulasan maupun kritik terhadapnya, tentu yang mengulas juga harus setara.
Tidak bijak dong bila seorang yang bukan sejarawan dan tidak pernah membuktikan, mengatakan jika cerita fiksi itu lebih nyata, mungkin dalam critical realism, bisa kita ketahui ya.

Eh iya, bulan puasa gak baik ngomongin orang. Bagi yang tersinggung maaf ya, kalian harus bekerja lagi untuk membuktikan novel fiksi itu tidak fiktif.
Fighting Pals.