Tampilkan postingan dengan label Kasih sayang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kasih sayang. Tampilkan semua postingan

Rabu, 16 Mei 2018

Cinta

What is Love?

Apa itu cinta? Mengapa begitu penting memengaruhi hidup manusia.
Bagi sebagian orang, cinta merupakan  kebahagiaan tapi bagaimana dengan orang yang terluka dan mendendam karena cinta?
Apa cinta itu sebuah anomali eksistensi, yang mencipta rasa benci dan sayang dalam waktu yang sama?
Jawabannya ada diujung formalitas.
Cinta memang amat penuh misteri, sebuah forma enigmatik, segala manusia pernah mengenal cinta, tapi tak semua orang mengerti cinta.
Sepertinya semua bisa terjadi karena cinta, semua orang ingin menguasai cinta karena cinta melampaui segalanya (seperti kata Vergil, amor vincit omnia), karena itu pro tanto bagi semua aksi dan akting yang disiasati.
Manusia mengalami cinta dalam segala cara, mungkin banyak yang merasa tak dicintai karena merasa rupa atau bentuk cinta yang tak sesuai dengan keinginan personal, padahal cinta itu mampu jadi impersonal, suprapersonal, interpersonal dan transpersonal, cinta selalu amat dekat  hingga sering tak disadari. Banyak yang tak mampu mengakuisisi cinta hingga didakwa fakir cinta, padahal tidak semua tergantung fatwa, ada banyak sebab manusia memalingkan cinta. Semua memiliki cinta, terkadang karena berbeda melulu dianggap tak memenuhi qua status, sehingga sering cintalah yang disalahkan.
Padahal bagi sebagian orang yang lain cinta adalah Raison d'etre, atau alasan eksistensi tertinggi yang diberikan Tuhan sebagai bekal berkehidupan, agar menjadi pengobatan bagi kegelisahan hidup.

Cinta beragam bentuknya, ada Eros, Agape, Philia, Storge, Ahev, Amor, Caritas, Ludus, Pragma, Philautia, Xenia, Ren, Birr, Mania, dan sebagainya.
Macam macam model tersebut tak dijual di etalase niaga, masing-masing mengendap di tiap komposisi hati yang performanya dapat berbeda sesuai spesifikasi aktualnya. Atau lebih jauh, setiap modelnya menjadi radikalisasi cerminan sikap sikap primitif yang dibawa sejak manusia pertama, yang dihadirkan gejala estetika genetis sebagai wajah mental yang mewarnai kisah cinta masing-masing manusia.
Tapi sebenarnya hanya ada dua jenis cinta: Partikular dan Universal.
Cinta partikular (pema) adalah cinta yang serbaterbatas, cinta pada lawan jenis dan sesama manusia, yang dalam prakteknya melahirkan kama (nafsu) sehingga manusia terjerumus dalam embel-embel dosa dan sengsara, cinta jenis ini adalah cinta yang memerlukan pemuasan, pemilikan dan konsolidasi.
Sedangkan Metta atau maitri sebagai cinta Universal, yang mewakili cinta kasih Tuhan, embodisasi kasih sayang ilahiah yang menjadikan manusia sebagai wakil Nya di bumi, cinta kepada sesama mahluk, lingkungan, dan diri sendiri. Cinta yang secara kasta lebih tinggi dari pema, karena cinta yang tidak terbatas dalam kaidah-kaidah pemenuhan kepuasan.
Cinta yang sudah mutakhir dan tidak terbebani beratnya eksistensi, cinta ini tak memerlukan pengakuan serta mampu mencapai jauhnya Tuhan.

Begitu juga cinta yang dirupakan dalam pandangan empirisme,
Pandangan Konvesional dalam biologi ada tiga unsur dalam bercinta: libido, kegemalan, dan preferensi pasangan. Unsur neurokimia otak yang primer yang mengatur ketiga dorongan tersebut adalah: testoteron, esterogen, dopamin, oksitosin, dan vasopresin.
Jalur dopamin sentral mengakomodasi tingkah laku preferensi pasangan, sedangkan vasopresin di ventral palladium, pengelolaan oksitosin di nukleus akumbens, dan nukleus hipotalamik paraventrikular yang mengatur tingkah laku kegemalan dan preferensi pasangan.
Dorongan seks termodulasi melalui aktivitas pada ventral tegmental area dan nukleus akumbens.
Hubungan yang tercipta dari keterikatan peran sistem limbik dengan kegiatan kegemalan, menciptakan resonasi limbik.
Resonasi limbik merupakan implikasi dari kapasitas empati manusia dan pemahaman koneksi nonverbal yang dibagikan bersama pada sesama mamalia.
Saat bercinta otak merespon dengan mengeluarkan oksitosin atau hormon kebahagiaan yang akan melekatkan hubungan pasca kopulasi antar dua mamalia yang mengalami simfonisasi dua pertukaran mutual dalam gejala adaptasi internal dimana dua mamalia menjadi selaras dengan situasi batiniah keduanya.
Selain sebagai stimulus orgiastis, hormon ini juga memunculkan gejala hubungan simbiosis antara ibu dan anak, serta hadiah bagi suatu pencapaian yang berhubungan dengan dopamin.
Dopamin juga berperan penting dalam bercinta, karena pengeluaran dopamin akan mengatur hasrat dan motivasi yang melampaui kenikmatan. Dalam fungsi minimalnya, dopamin akan memicu gratifikasi seksual serta adrenalin.
Akson yang tercipta dari dopamin juga akan mereduksi aktivitas limposit, yang mengambil peran dalam imunitas, dalam artian ini, memaksimalkan kesehatan.
Testoreron memang dikenal sebagai hormonnya maskulin, karena 7 hingga 8 kali berjumlah lebih besar pada laki laki dibanding perempuan, dalam hubungan cinta, hormon ini memengaruhi manusia prenatal hingga posnatal, sebagai maskulinisasi anatomi, terutama sebagai tanda maturasi: perkembangan phalik, bulu pubik, bulu ketek, eskalasi suara, jakun, pengerasan otot dan pertumbuhan rambut, aroma badan, pematangan facial, serta ekspansi spermatogenik.
Dalam pandangan ini, manusia yang tengah mengalami cinta mengalami peningkatan kortisol dan mengalami semacam euphoria dari endorfin.
Secara biokemistri, hubungan antarunit hormon dengan jalur atau ruang perjalanan hormonal yang melintas diotak dan mengalir didalam tubuh, akan menuntun manusia dalam mencapai sinyalnya menemukan kriteria arketipal terbaik yang paling sempurna walaupun dengan adanya rasio manusia lebih bebas menentukan siapa yang akan dijadikan teman hidupnya diluar pemenuhan kriteria secara eksternal dalam hal ini kecocokan mutualistik secara instingtif, adanya sinyal belahan jiwa tersebut juga berhubungan dengan Hukum Coulomb, sederhananya menyatakan bahwa materia elektrik yang memiliki muatan positif dan negatif akan saling tarik menarik sebagai sebuah interaksi elektrik dalam suatu jarak tertentu, sebaliknya, bila bermuatan sama akan menciptakan dorongan penolakan.

Sedangkan menurut Marx, secara implisit, cinta merupakan sebuah ideologi, yang dalam pengertian Marx, adalah kesadaran palsu, realitas bagi seseorang akan ditentukan oleh posisi sosial ekonominya. Lebih dekat lagi, cinta hanyalah sebuah hubungan sosial ekonomi yang dijelmakan sebagai kapital semata, hubungan untung-rugi. Dimana cinta menghubungkan komoditas-komoditas diri, yang ada dalam preferensi bilamana ada ketersesuaiannya, maka akan diberlakukan sistem kontrak kerja, sesuai dengan aturan-aturan personal yang mengikat dan setiap pelanggaran akan mendapatkan sanksi, baik berupa teguran hingga pemutusan hubungan kerja.
Ada kuot kanon: Die Religion ... ist das Opium des Volkes (agama... Adalah 'candu' masyarakat) yang muncul sebagai anekdot baru "cinta adalah opium masyarakat" karena dengan adanya cinta, masyarakat tenggelam dalam kebahagiaan semu, layaknya candu yang hanya mengalihkan penderitaan sesaat, tanpa mampu memberikan penyelesaian.
Saya menolak tudingan jika saya seorang eksistensialis, tapi saya setuju dengan Sartre, bahwa cinta adalah penindasan. Cinta adalah bukti kegagalan manusia mempertahankan diri sebagai subjek. Karena tenggelam dalam objektifikasi pasangan, dan larut dalam dunia oranglain. Bahkan, seiring waktu takut merasa kehilangan dan muncul kebuntuan eksistensi.
Sehingga keutuhan Diri, telah terberai kedalam komponen-komponen liyan yang rapuh. Manusia telah kehilangan kepemilikan dirinya dalam diri, sehingga melalui cinta manusia jadi terasing (teralienisasi).
Namun berbeda bagi Fromm, cinta merupakan sebuah resolusi, pelepasan diri dari belenggu penderitaan eksistensi dan kesengsaraan dengan cara meleburkan diri kedalam kesatuan yang lebih tinggi, cinta adalah panggung untuk memberi, karena memberi bagi Fromm adalah bentuk potensi eksponensial tertinggi manusia. Dengan memberi, manusia membebaskan dirinya dari keterpisahan, namun dalam pengertian terbatas, memberi segala yang dimiliki dibedakan dari mengorbankan, karena apapun yang hadir didalam diri, diserahkan sepenuhnya bukan hanya konstruksi seksual saja. Dengan cara seperti itu manusia telah mencapai suatu pilihan yang mantap dalam melampaui segala kesulitan mencinta, diharapkan kebahagiaan sejati akan datang melalui sikap memberi yang tulus.
Karena memberi memampukan manusia dalam menerima kebahagiaan.
Tapi menyambung pendapat Fromm, keadaan cinta seperti itu melahirkan koreksi, yang mengingatkan saya pada anekdot di dunia teolog yang amat lucu, "ancilla amoris" atau pelayan cinta. Membiarkan diri menyembahkan yang liyan, sebagai sesuatu yang Kudus, sebagai pegangan yang melahirkan ketergantungan yang malah lebih buruk ketimbang candu itu sendiri. Karena menghilangkan integritas, yang dalam keutuhannya sebagai harmoni simbiosis.

Pada akhirnya cinta bukan urusan pemilikan perseorangan melainkan sebuah aktus humanus yang sejalan dengan aksi mental yang tak lepas dari Prehensi, yang telah melampaui rupa kepemilikan dan rumus pertukaran, dalam bentuk yang cair, yang independen, cinta yang jatuh pada cinta, dan menyempurnakan nya melalui cinta aku yang bersemayam didalam dirimu, diri dunia, diri semesta, dan diri Tuhan, namun, manusia masih harus terus berlatih menjalani cinta dalam  kepercayaan rasional dan irasional.

Jadi, apa itu cinta?